Catholic Gen Z, Catholic?

Catholic Gen Z, Catholic?

Mengajak REKAT & OMK mengenal Seksualitas dan Tidak Meninggalkan Gereja Katolik

Aji berusaha mencari bola tanpa diarahkan siapapun. Setelah berusaha dengan keras, aturan game berganti. Kini semua peserta mencari bola dengan arahan supaya lebih tepat dalam mencari bola. Nah tentu lebih mudah dengan aturan yang kedua ini.
Ini adalah game yang dimainkan Aji di kelas A dalam workshop bertajuk Catholic Gen Z, Catholic? Catholic Gen Z, Catholic? yang diadakan Gereja Santo Vincentius a Paulo Surabaya pada 21 Desember 2025 di aula. Bersama Aji juga 150an cewek cowok usia REKAT dan OMK aktif ikut acara ini dalam menyambut Natal.
Workshop ini berhasil mengumpulkan 150 peserta berasal dari rentang usia 12 sampai umur 35 tahun. Para peserta selanjutnya dibagi menjadi tiga kelompok besar yang masing-masing berisi 50 orang.
“150an anak ini dibagi menjadi tiga masing-masing 50 anak. Kemudian tiap kelas 50 anak, kalau sudah selesai di kelas A mereka pindah ke kelas B, begitu pula yang di kelas C pindah ke kelas B,” ujar Gracia Lusyana, ketua panitia Natal 2025.
Dalam workshop ini romo Ditia Prabowo, CM yang berduet dengan romo Agustinus Sukaryono, CM atau romo Yoyon menyampaikan hal tentang pentingnya arah hidup. Seperti game tadi dengan mencari bola tanpa arahan tentu sangat sulit dibanding mencari bola dengan pengarahan.
Meski cukup berat, tapi tema seksualitas, pacaran, dan moral berdasarkan teologi Kristen disampaikan dengan begitu renyah oleh kedua romo kita. Para peserta ditekankan perlunya memahami seksualitas dan menjaga kekudusan karena tubuh adalah karunia sekaligus bait Roh Kudus (bdk. 1 Kor 6:19-20).
Peserta juga diajak menyadari pentingnya Gereja Katolik bagi kehidupan mereka. Karena hanya dalam Gereja Katolik terdapat nilai-nilai yang dilandasi oleh sabda Allah dalam Kitab Suci. Misalnya bahwa penyembahan yang sesungguhnya hanya ada di Gereja Katolik yang terjadi dalam perayaan Ekaristi karena terdapat imam, altra, dan kurban.
Acara ini berawal dari keprihatinan dan kekuatiran para romo yang berkarya di SVaPS yang diutarakan oleh Romo Priyambodo, terutama untuk usia Rekat dan OMK yang mamasuki masa puber. Di usia ini mereka sudah mulai mengenal pergaulan dengan lawan jenis juga pergaulan yang lebih luas, baik itu bergaul dengan teman sesama Katolik maupun yang non Katolik. Tidak dipungkiri di usia tersebut, hal-hal baru mulai dicoba yang mengarah ke hal negatif.

Comments

Don't forget to follow our channels. Please give likes and comments.
WEBSITE - YOUTUBE - FACEBOOK - INSTAGRAM